Tidak patut ditiru, ini dia kebiasaan buruk Finansial masyarakat desa yang bisa datangkan kemiskinan

 Pengelolaan finansial yang buruk mengakibatkan kemiskinan dimasa depan, umumnya masyarakat desa dalam pengelolaan keuangan sangatlah buruk. Berikut kebiasaan buruk masayarakat desa dalam mengelola keuangan.

1.Terlalu boros atau kesalahan dalam menggunakan uang

 Masyarakat desa, bisanya membelanjakan uangnya tanpa mengetahui mana kebutuhan dan keinginan, khususnya para remaja dalam membelanjakan uang, apa yang mereka inginkan akan dibeli padahal itu produk merupakan barang pelengkap / keinginan belaka bukan kebutuhan. Mirisnya, rata – rata masyarakat desa remaja masih minta uang saku di orang tuanya.

 Penyelesaian, Untuk menciptakan keuangan yang sehat masyarakat desa perlu mengetahui mana produk yang termasuk kebutuhan dan keinginan. Misalnya, Minyak adalah kebutuhan untuk memasak, Sepatu trend  ( mahal ) adalah keinginan karena masih ada sepatu yang lebih murah untuk dibeli. Dan itu relative mahal , tentu tidak sebanding dengan pendapatan per bulan. Jika tetap ingin membeli barang tersebut tunggulah sesaat ketika harganya turun. Yang terkahir, buatlah jurnal pengeluaran dan masukan keuangan anda.

2. Tidak mengajarkan anak tentang Keuangan dari usia dini

 Sebagian besar masyarakat desa tidak mengajarkan anaknya tentang keuangan, bukan tanpa sebab melainkan orangtuanya juga tidak melek dengan keuangan yang baik dan benar. Misalnya, seorang bapak dan ibu yang sedang menghitung uang di rumah untuk membeli suatu barang. Tiba – tiba anaknya menghampiri, pada saat itu anak tidak boleh menanyakan akan dibelanjakan kemana uang tersebut, karena mereka tidak memperbolehkannya untuk bertanya. Padahal dengan menjawab pertanyaan mereka sedikit membantu pengetahuan keuangan dari dini.

 Kesalahan selanjutnya, cara menabung yang buruk. Umumnya masayarakat desa akan menyuruh anaknya untuk menabung dengan menyimpan uang di celengan atau apapun yang bisa dijadikan wadah uang. Itu salah fatal, cara itu merupakan metode – metode kuno yang dapat mengkakibatkan kemiskinan pada masa depan, dan metode ini juga rata – rata diajarkan di sekolah dasar setiap desa. 

 Penyelesaian, ajarkanlah anak anda untuk bermain tentang keuangan, membeli barang – barang yang akan dihitung oleh mereka. Biarkan mereka berbuat kesalahan, ajarkan dengan baik secara konsisten agar mereka melek keuangan. Misalnya, bermain pasar – pasaran dengan menggunakan uang palsu. Dan cara menabung yang baik dan benar ialah memahami apa itu uang dan bagaimana cara kerja uang. Yaitu, uang setiap tahunnya mengalami inflasi ( Harga  mie sedap tidak dapat  kamu beli pada saat 2020 dengan harga 1.000 sedangkan pada saat 2018 kamu dapat  membelinya dengan harga 1.000 ) itu pengertian secara gampangnya. Selanjutnya, cara kerja uang anda itu sama bagi semua kalangan, yang memedakan adalah penempatannya. jika anda menempatkannnya pada tempat yang tepat maka akan menghasilkan uang begitu juga sebaliknya. Misalnya, anda mempunyai uang 100.000. jika anda membelanjakan uang 100.000 dengan membeli makanan maka uang anda hilang. Tetapi, jika anda membelanjakan uang untuk membeli reksadana, uang sewaktu – waktu bertambah. Karena dengan membeli reksadana, saham, obligasi, adalah cara tepat untuk menabung uang.

Baca jugahttps://www.azmiyeeeeee.com/2020/12/cara-menjual-barang-yang-benar.html

 Baca juga : https://www.azmiyeeeeee.com/2020/12/pembisnis-atau-pebisnis.html

 Dari pada anda menabung uang di bank atau celengan, uangnya akan segitu saja dan nilai tukar untuk membeli barang akan turun. Bahkan, anda harus membayar untuk pegawai yang menjaga uang anda di bank dengan potongan - potongan per bulan. Sedangkan uang yang ditabung dengan membeli reksadana nilai uangnya tidak terancam akan nilai uang pada periode tersebut atau nilai tukar 

3. Malu menggunakan uang receh dalam bertransaksi ( berbelanja )

 Tidak semua desa seperti itu, dilombok Nusa tenggara barat / Sumbawa mereka tidak menggunakan uang pecahan  Rp. 500 untuk berbelanja di toko – toko. Terkecuali toko – toko besar seperti, indo mart, alfa mart dan lain – lain. Padahal uang Rp. 500 memiliki nilai tukar tetapi sebagian besar dari mereka tidak menggunakannya, bukan karena tidak ada nilainya melainkan malu menggunakan pecahan Rp. 500 untuk dibelanjakan apalagi di toko tetangga. Karena pihak toko atau teman mengolok – olok orang atau pelanggan yang menggunakan pecahan Rp. 500. Itulah sebabnya kebanyakan masyarakat desa hidup dalam garis kemiskinan dan menengah ke bawah karena tidak melek keuangan. 



4. Orang tua tidak mengajarkan finansial dalam praktek sehari – hari yang benar

 Dalam memebeli kebutuhan dapur merupakan bagian dari keuangan. Permasalahannya, rata – rata masyarakat desa dalam mebelanjakan uang untuk  kebutuhan seperti minyak, sayur, ikan, tidak dilakukan dengan baik. Seperti, mereka membeli ikan dengan cara berhutang, menggunakan beras sebagai pengganti uang ( padahal beras tersebut kalau dijual lebih tinggi nilainya dibandingkan uang ). Ini adalah praktek – praktek dalam sehari – hari yang tidak baik apalagi berhutang. Karena ini dilihat oleh anak usia dini / remaja mengakibatkan kebiasaan buruk mereka terhadap  finansial.


Akibat dari pengelolaan keuangan yang buruk :

1. Hidup dalam garis kemiskinan

2. Sering diremehkan orang

3. Tidak leluasa dalam melakukan suatu hal

4. Tidak dapat membeli apa yang diinginkan

5. Tidak dapat menempuh pendidikan

6. Kesulitan dalam kehidupa sehari – hari

7. Sumber masalah dalam keluarga  dan lain – lain

Uang memang bukan segalanya, tetapi segalanya membutuhkan uang untuk kehidupan ini.  




Related Posts

0 Response to "Tidak patut ditiru, ini dia kebiasaan buruk Finansial masyarakat desa yang bisa datangkan kemiskinan"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel