Kisahku ditengah wabah corona

Sendiri dalam sunyi, sepi ditinggal teman yg  pulang ke kampung halaman.pandemi covid -19 mencengkal aktivitas kampusku. terkadang terbayang bagaimana parahnya krisis 1998. aku melempar telepon genggam keatas kasur.ia terlalu banyak merenggut waktuku.

Aku memulai menulis catatan pengeluaran uang saku,menyisihkan sisa sia uang saku ditengah pandemi corona yg mengglobal. yah, uang ini aku anggap sebagai tabunganku membeli  “buku”.mencari tahu mengapa firlandia,jepang,denmark,maupun peradaban islam dahulu menjadi maju.dan sekarang aku tahu mengapa karena tempat itu dipenuhi penduduk yang rajin membaca dan menulis.




Sejauh ini aku baru memulai mengulang kembali,mengulang bacaan dari tumpukan buku yang telah lama kuacuhkan karena kehilangan minat membaca semenjak tahun lalu. yah, dalam sepi kubaca buku satu persatu ditemani secangkir teh hangat berwarna merah mendarah.

" Aku tersesat dalam kesenderianTersesat ditengah frustasi

   Karena pandemic corona yang semakin  menjadi,Aduhai,bukan

   Corona musuh baruku,tapi frustasi hancurkan hiduku "

  Dokter menjadi garda terakhir yang sebelumnya menjadi garda terdepan, kritik, hujatan dan hinaan bertubi tubi maenghantam, katanya karena kebijakan yg tak wajar., kelaparan, krisis dan berita panas yang lebih panas dari secangkir tehku menjadi santapanku di pagi hari, iya begitulah media menyebarkan rasa takut tanpa memberi harapan

Tidak cukup dengan pendemi -19, angka kemiskinan meningkat,ribuan pekerja kena PHK, terlebih lagi dengan isu-isu teori konspirasi, yah,dimana kata mereka virus ini adalah permainan elit tinggi.para pejabat tinggi bingung mau bagaimana?! Akhirnya kedua bibir manis terkunci rapat diam seribu bahasa hanya menyidakan derita luka dan tangisan yang  mendalam.

Ah, Aku bosan dirumah saja, apalagi ini di tanah rantau Malang. oh tidak, tak ada bedanya,semua sama saja bosan di rumah aja. Apakah pandemi ini sampai bulan Juli ?  {diam seribu bahasa menunggu asa yg palsu nan pilu yg baru}.

Tanggal 18 desember 2020. Aku kira covid - 19 tidak berkepanjangan, dari bulan juli sejak saya menulis tentang penantian berakhirnya covid - 19 berlanjut sampai saat ini, bahkan sampai 2021  kata para pejabat, jumlah positif kembali naik setelah turun terdampak positif corona - 19. sektor pendidikan semakin melemah, sektor ekonomi semakin memburuk, keadaan mental siswa tidak sedang baik - baik saja.

Pada tanggal 17 desember, saya sengaja mengupload status "Semester depan kuliah cuti atau tidak". sekitar 7 orang anak respon status. Enam dari 7 anak kuliah hanya satu anak yang menyarankan untuk cuti dan bekerja.begini tanggapan enam orang ujarnya "kuliah online sudah mulai nyaman" yah, mungkin saja mereka nyaman dengan kuliahan online karena mendapatkan nilai lebih mudah dibandingkan offline. lalu bagaimana dengan pemahamannya ? 

Matahari terus bersinar di pagi hari, korupsi terus terdengar di tanah negeri ini, garda terdepan dokter kewalahan tanpa ampun menghadapi masalah beruntun. bukan main yang dikorupsi Mensos, uang yang seharusnya menjadi hak rakyat ditengah pandemi lahap dikorupsi. Orang - orang berkata " Ada apa dinegeri ini ". Rasanya rakyat hanyalah tumbal dari kekuasaan, hilang sudah kekuasaan rakyat dalam kehidupan bernegaranya. Lalu, kapan covid - 19 ini berakhir ?  

Mana kata tuhan ?


Malang, o5/ 1/ 2021 corona masih berdiam dan menyebar ke tubuh masyarakat negara indonesia, Ekonomi yang semakin jeblok dibandingkan 2020 yang anjlok. Sekalipun saya mulai bisa beradaptasi dengan mengurung diri, di tanah rantauan terkadang stress datang tiba - tiba. 

Entah, tahun ini istimewa bagiku pemerintahan serasa otoriter, keadilan hanya buat orang berkedudukan. Saya tidak mengetahui apakah tulisan artikel ini akan dihapus oleh pemerintah seperti maklumat kapolri yang mengeluarkan tidak bolehnya mengupload atau menulis tentang FPI. Memang betul menjadi manusia adalah masalah bagi manusia.

Tahu dan tempe harganya mulai naik, Impor kedelai merupakan faktornya. Entah, uang pajak kami dikemankan oleh para pejabat yang berkata tuhan dan seolah - olah menjadi tuhan. Setidaknya tahun 2021 aku bisa membedakan mana yang bangsat dan mana yang dibangsatkan. Berfikir majemuk memang sulit bagi setiap manusia, terlebih para penguasa yang sering berfikir tunggal. Ah, tidak penguasa saja tapi banyak orang. Aduhai, apakah tulisan jejak ketidakberhasilan pemerintah dalam mensejahterkan rakyat aku dipenjarakan ? Entahlah

Gua ingat betul seorang tokoh Romahurmuziy ketua ppp berkata kalimat - kalimat tuhan di seminar kampus. Dilantai 3 gedung pascasarjana dengan mayoritas peserta anak FEB. Apalagi saat dia memberi hadiah berupa uang bagi siapa yang bisa menjawab pertanyaan Pertanyaan tentang sejarah nabi dan usaha digital atau suatu yang berkaitan dengan ojk. lumayan gede lo uangnnya 100 ribu 1 jawaban yang menjawab dengan benar. 

Beberapa minggu kemudian, beredar kabar Romahurmuziy terjerat kasus korupsi jabatan, Ah, duh, mana kata - kata tuhan dalam praktiknya ?





Related Posts

3 Responses to "Kisahku ditengah wabah corona"

muhammad heru mengatakan...

Aseek gw suka cerita ini buat lagi ya😁

Unknown mengatakan...

Asek bae genk

Anonim mengatakan...

semangat menulisnya..di tunggu cerita berikutnya

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel